Posts Tagged ‘orang miskin

20
Feb

Hanya Satu Kekuranganmu

17 Pada waktu Yesus berangkat untuk meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya: “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” 18 Jawab Yesus: “Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja. 19 Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!” 20 Lalu kata orang itu kepada-Nya: “Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku.” 21 Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya. (Markus 10:17-22)

Alkisah seorang raja yang sedang menghadapi ajalnya memanggil pembantu setianya. Sang raja menyatakan kepada pembantunya yang sudah bersamanya puluhan tahun itu, bahwa ia takut menghadapi ajalnya yang dirasanya sudah sangat dekat itu. Dia merasa belum siap untuk mati.

Mendengar itu pembantunya tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. “Mohon ampun, paduka yang mulia”, sang pembantu berkata. “Hamba belum pernah mendengar sesuatu yang lebih lucu daripada hal ini.

Selama hamba menjadi pembantu Raja, hamba memperhatikan bahwa setiap kali paduka Raja hendak mengadakan perjalanan ke suatu negeri, paduka selalu melakukan persiapan yang matang untuk keberhasilan perjalanan itu. Paduka bahkan mengutus orang untuk menyiapkan segala sesuatu yang bersangkutan dengan kunjungan paduka. Hamba tertawa, karena sebentar lagi paduka akan melakukan perjalanan yang terpenting dalam hidup paduka. Bagaimana mungkin paduka belum melakukan persiapan sama sekali?”

Kehidupan setelah kematian memang adalah sebuah misteri. Bagi kita yang percaya, kematian merupakan pintu menuju kehidupan kekal. Hanya pertanyaannya, kehidupan kekal yang seperti apa?

Orang yang datang mendapati Yesus dalam kisah Injil tadi juga mempunyai pertanyaan yang sama. Dia bertanya kepada Yesus, apa yang harus dia perbuat supaya memperoleh hidup yang kekal. Orang ini masih lebih baik dari sang Raja dalam ilustrasi tadi. Dia menyadari akan kehidupan kekal itu dan dia sudah melakukan persiapan-persiapan untuk menuju ke sana. Kepada Yesus dia mengatakan bahwa dia sudah menuruti segala perintah Allah, jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu. Semua itu sudah dilakukannya sejak masa mudanya. Namun dia tetap ingin tahu, satu hal untuk memastikan bahwa dia akan memperoleh hidup yang kekal bersama dengan Allah.

Sayang sekali, cerita ini juga berakhir dengan sedih. Satu hal yang dia cari itu ternyata menurut Yesus adalah “juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Orang itu pun menjadi kecewa dan pergi meninggalkan Yesus dengan sedih.

Melalui renungan ini saya tidak hendak menakut-nakuti siapapun. Saya percaya kita semua punya kesadaran seperti orang yang datang kepada Yesus ini. Kita tahu bahwa kita harus melakukan sesuatu, supaya kekekalan yang kita akan jalani setelah kematian nanti bukanlah kebinasaan kekal tetapi hidup yang kekal. Saya percaya di sini tidak ada yang seperti Raja yang bodoh tadi, yang lupa membuat persiapan untuk perjalanan terakhirnya.

Jadi, persiapan seperti apakah yang sudah Anda lakukan? Kalau kita mau mengunjungi suatu tempat, tentu persiapan yang kita lakukan akan kita sesuaikan dengan tempat yang kita akan kunjungi. Kalau kita mau pergi ke pantai, persiapan kita akan berbeda kalau kita mau pergi ke gunung. Kalau kita akan pergi ke negeri yang bersalju, persiapan kita akan berbeda dengan kalau kita mau pergi ke negeri berpadang pasir. Oleh karena itu apa yang dilakukan orang yang datang kepada Yesus ini sebenarnya sudah tepat. Dia percaya bahwa Yesus adalah Guru yang diutus oleh Allah, karena itu dia datang kepada Yesus untuk mencari tahu, persiapan seperti apa yang paling tepat, yang harus dilakukannya.

Sebagai seorang Yahudi, orang ini juga sebenarnya sudah berada di jalur yang benar dalam mempersiapkan ‘perjalanan terpenting’nya itu. Dia hidup berpadanan pada hukum taurat. Akan tetapi, mengapa cerita orang ini harus berakhir dengan sedih seperti ini?

Ada yang mengatakan bahwa alasan cerita orang ini berakhir sedih adalah karena dia adalah seorang yang self-rigtheous. Orang ini sebenarnya sudah merasa bahwa dirinya benar ketika dia datang kepada Yesus. Dia hanya mau mendapat pengakuan dari Yesus mengenai ‘kebenaran’ dirinya itu. Ini mungkin ada benarnya juga. Akan tetapi, dalam renungan ini saya mau mengajak kita untuk melihat bahwa masalah bagi orang ini mungkin terletak pada kesenjangan antara apa yang dianggapnya sebagai sesuatu yang terutama dengan apa yang dianggap Yesus sebagai yang terutama.

Bagi orang yang datang kepada Yesus ini, yang terutama adalah ‘kebaikan’ dan kesempurnaannya ditentukan oleh perbuatan-perbuatan yang baik. Kesenjangan ini sudah terlihat ketika dia menyapa Yesus sebagai ‘guru yang baik’, Yesus menjawabnya bahwa “tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja”. Kesempurnaan yang dianjurkan Yesus adalah “juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin.”

Dalam mempersiapkan ‘perjalanan terakhir’ kita, merupakan sesuatu yang penting untuk menyadari kesenjangan ini. Menjual segala yang dimiliki, memberikan kepada orang miskin, dan mengikuti Yesus. Itu adalah rumusan yang diberikan sebagai kesempurnaan oleh Yesus. Kalau kita membaca Matius 25:31-46, kita bisa melihat rumusan yang serupa. Yesus bercerita mengenai penghakiman terakhir. Ketika Yesus datang untuk menghakimi manusia, ukuran yang dipakainya adalah ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku

Di penghakiman terakhir Yesus tidak bertanya berapa banyak hukum yang sudah dilaksanakan. Dia hanya bertanya, dimanakah kita ketika ada yang membutuhkan pertolongan kita. Di penghakiman terakhir, Yesus tidak bertanya apa saja keberhasilan yang sudah diraih. Dia hanya bertanya, sudah seberapa pedulikah kita terhadap mereka yang membutuhkan uluran tangan kita. “sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.”

Melalui renungan ini, saya hanya mau mengajak kita untuk berpikir sejenak. Seperti apakah kita menjalani kehidupan kita di hadapan Tuhan. Apakah kita seperti orang yang datang kepada Yesus ini, yang mengisi hidupnya dengan berjuang untuk melakukan peraturan-peraturan hukum taurat, namun lupa bahwa disekitarnya ada banyak sekali orang miskin yang berjuang hanya untuk bisa hidup dari hari ke hari? Apakah kita seperti orang ini, yang merasa bahwa dirinya sudah cukup benar karena hidup sesuai hukum taurat, namun akhirnya pergi meninggalkan Yesus dengan hati yang sedih?

Sesungguhnya kebaikan dan kesempurnaan kita peroleh melalui kasih karunia. Itu bukan hasil usahamu tetapi pemberian Allah (bd Efesus 2:8-9). Akan tetapi, Yesus memanggil kita untuk memperhatikan sesama kita, memberikan pertolongan kepada mereka yang membutuhkan, karena dengan itulah kita menjadi pengikut-pengikut Yesus yang sejati.

Anda dan saya mungkin sudah berbuat banyak bagi Yesus. “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.


Sam-el Ladh