Posts Tagged ‘message



26
Aug

Belajar dari Jemaat di Antiokhia


19 Sementara itu banyak saudara-saudara telah tersebar karena penganiayaan yang timbul sesudah Stefanus dihukum mati. Mereka tersebar sampai ke Fenisia, Siprus dan Antiokhia; namun mereka memberitakan Injil kepada orang Yahudi saja. 20 Akan tetapi di antara mereka ada beberapa orang Siprus dan orang Kirene yang tiba di Antiokhia dan berkata-kata juga kepada orang-orang Yunani dan memberitakan Injil, bahwa Yesus adalah Tuhan. 21 Dan tangan Tuhan menyertai mereka dan sejumlah besar orang menjadi percaya dan berbalik kepada Tuhan.
(Kisah Para Rasul 11:19-21)

Jemaat Antiokhia dalam zaman gereja perdana adalah sebuah jemaat yang luar biasa. Sayangnya belum banyak yang pernah membahas tentang gereja ini. Hari ini, dalam menyambut semester baru kita di Shine Jogja, saya mengajak saudara-saudari untuk belajar dari jemaat ini.

Antiokhia di zaman gereja perdana adalah sebuah kota besar dalam wilayah emporium Roma. Bahkan kota ini disebut-sebut sebagai kota terbesar ketiga. Menurut Kisah Para Rasul 11:19-30, Injil pertama kali diberitakan di kota ini melalui beberapa orang Siprus dan orang Kirene, yang memberitakan Injil bukan hanya kepada orang-orang Yahudi di sana tetapi juga kepada orang-orang Yunani. Dikisahkan bahwa Tuhan menyertai pemberitaan Injil mereka sehingga banyak orang menjadi percaya dan berbalik kepada Tuhan. Karya Injil yang terjadi di Antiokhia ini kemudian didengar oleh jemaat di Yerusalem. Para Rasul kemudian mengutus Barnabas ke sana untuk meneguhkan jemaat itu. Di sana Barnabas melayani jemaat Antiokhia dan juga dia mengajak Saulus dari Tarsus untuk melayani bersamanya.

Jemaat di Antiokhia ini pun lalu terus bertumbuh, dan Kisah Para Rasul menyebutkan bahwa di Antiokhialah para pengikut Kristus pertama kali disebut ‘Kristen’. Ini sesuatu yang luar biasa. Kata ‘Kristen’ itu sendiri bermakna ‘Kristus kecil’. Itu artinya kehidupan jemaat di Antiokhia begitu indahnya sehingga melalui mereka orang seolah-olah bertemu kembali dengan Kristus. Mereka dijuluki Kristus-Kristus kecil karena kehidupan mereka menyerupai Kristus yang mereka percayai.

Begitu indahnya kehidupan jemaat Antiokhia sehingga para nabi dari Yerusalem pun penasaran ingin menemui mereka. Kisah Para Rasul 11:27 menyebutkan bahwa beberapa nabi dari Yerusalem datang ke sana dan menyampaikan firman Tuhan di sana. Disebutkan juga dalam ayat-ayat selanjutnya, bahwa jemaat ini ketika mendengar nubuat tentang kelaparan yang akan melanda dunia, mereka mengumpulkan sumbangan untuk diberikan kepada jemaat di Yerusalem.

Dari sini kita bisa melihat, beberapa hal yang istimewa dari jemaat ini. Yang pertama, jemaat ini dirintis oleh orang-orang biasa, namun yang memiliki hati yang bernyala-nyala dengan Injil, sehingga memberitakan Injil kepada orang-orang bukan Yahudi juga. Orang-orang biasa ini memiliki kasih Allah yang melampaui batas suku dan bangsa, karena itu tidak heran Tuhan begitu berkenan dan memberkati pekabaran Injil mereka sehingga banyak orang yang menjadi percaya dan datang kepada Tuhan. Yang kedua adalah kehidupan jemaat di Antiokhia ini benar-benar adalah kehidupan yang berpadanan kepada Kristus yang mereka imani. Kehidupan mereka benar-benar menggambarkan Kristus, sehingga dunia pun menyebut mereka sebagai “Khristianos”, Kristus-Kristus kecil. Mereka bukan orang percaya yang hanya percaya di mulut saja, tetapi dalam segenap hidup mereka, iman mereka itu terpancar dengan jelas. Selain itu, mereka juga penuh dengan kasih terhadap sesama. Mereka meresponi firman Tuhan dengan segera melakukan apa yang bisa mereka lakukan. Mereka tidak perlu menunggu perintah, dengan sukarela mereka langsung mengorganisir bantuan bagi saudara-saudari mereka di Yerusalem yang dilanda kelaparan.

Satu hal lagi yang luar biasa dari jemaat ini bisa kita lihat dari Kisah Para Rasul 13:1-3.

  1. Pada waktu itu dalam jemaat di Antiokhia ada beberapa nabi dan pengajar, yaitu: Barnabas dan Simeon yang disebut Niger, dan Lukius orang Kirene, dan Menahem yang diasuh bersama dengan raja wilayah Herodes, dan Saulus.
  2. Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus: “Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka.”
  3. Maka berpuasa dan berdoalah mereka, dan setelah meletakkan tangan ke atas kedua orang itu, mereka membiarkan keduanya pergi.

Jemaat ini adalah jemaat yang dipakai Tuhan untuk misi dunia. Memang dari jemaat-jemaat yang lain juga Tuhan memakai misionaris-misionaris untuk memberitakan Injil sampai ke ujung bumi. Akan tetapi jemaat Antiokhia merupakan jemaat yang paling aktif mengirim misionaris-misionaris untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia. Barnabas dan Saulus, adalah dua orang yang bekerja sangat keras untuk memberitakan Injil ke Asia dan Eropa.

Jemaat Antiokhia dirintis oleh orang-orang biasa, namun dipenuhi kuasa Roh Kudus, hidup menurut teladan Kristus dan menjadi saksi yang indah bagi dunia melalui kehidupan mereka. Bukan hanya itu saja, mereka pun pergi ke bangsa-bangsa yang lain untuk memberitakan kabar baik keselamatan itu.

Seringkali ketika kita melihat diri kita, komunitas kita, kita berpikir kita adalah orang-orang biasa, komunitas yang biasa, jemaat yang biasa saja. Akan tetapi mari belajar dari jemaat Antiokhia hari ini. Yang menjadikan mereka indah bukanlah karena siapa yang merintis jemaat ini, atau rasul luar biasa yang menjadi pemimpin mereka. Yang membuat mereka indah adalah karena hati yang bernyala-nyala untuk Injil, yang dipenuhi kasih yang tidak tahan untuk tidak memberitakan Injil itu. Yang menjadikan mereka indah adalah mereka menyediakan diri mereka untuk menjadi alat yang sempurna bagi Roh Kudus untuk bekerja melalui mereka. Roh Kudus memakai orang-orang yang hatinya dipenuhi kerinduan dan kasih kepada jiwa-jiwa yang melewati batas-batas suku dan bangsa. Roh Kudus memakai orang-orang biasa, yang mempunyai kerelaan dan kerinduan yang tidak terbatas.

Di semester yang baru ini, saya rindu kita juga menjadi seperti jemaat Antiokhia ini. Di mata orang kita mungkin tidak populer, tidak terlihat hebat dan besar. Akan tetapi ketika kita memberi hati dan diri kita untuk dipenuhi oleh Roh Kudus, untuk dipakai-Nya memberitakan kabar baik yang penuh kasih itu, Dia akan menjadikan kita komunitas yang terindah. Komunitas yang begitu indah sampai dunia pun tidak bisa tidak mengakui bahwa Kristus hidup di dalam kita.

Mari kita bergandengan tangan melangkah bersama. Lihat di sekeliling kita ladang sudah menguning dan siap untuk dituai. Mari pergi ke jalanan, lihat mereka yang mengembara di perempatan-perempatan jalanan Jogja yang panas itu, mereka butuh Kristus yang memeluk dan mengasihi mereka dengan tulus. Mari pergi ke kampus-kampus, sekolah-sekolah, lihat mereka yang mengembara mencari identitas dan aktualisasi diri, mereka butuh Kristus yang memberi mereka makna hidup yang sejati.

Called of God, we honor the call, Lord we’ll go wherever You say
Where You lead come pain or pleasure, We would follow You everyday

Anna L. Lee

21
Jul

ALLAH ORANG HIDUP

Markus 12:18-27. Ayat pokok 12:27
Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup. Kamu benar-benar sesat!”

Hukum Musa mengatakan bahwa bila seseorang lelaki mati tanpa meninggalkan keturunan, adik lelakinya bisa meneruskan namanya dengan mengawini isterinya. Orang Saduki mau menunjukkan bahwa hukum itu akan membuat masalah setelah mereka di surga nanti. Siapa yang jadi suami wanita itu di surga?

Dua kesalahan mereka yang ditunjukkan Yesus:

  1. Berpikir bahwa di surga nanti manusia hidup dengan cara yang sama seperti ketika hidup di dunia.
  2. Berpikir bahwa di hadapan Allah ada kematian.

Yesus menunjukkan bahwa kehidupan dalam keabadian, entah itu di surga atau di neraka, berbeda dengan kehidupan di dunia yang fana ini. Manusia tidak lagi hidup untuk memuaskan tubuh yang fana dan berdosa.

Yesus menunjukkan juga bahwa di hadapan Allah tidak ada kematian. Semuanya tetap hidup di hadapan Allah. Manusia yang mati, hanya tubuh fananya yang binasa, tetapi jiwanya tetap hidup di hadapan Allah. Oleh karena itu, Allah adalah Allah orang yang hidup bukan yang mati.

Lalu, bagaimana kita merefleksikan firman ini bagi diri kita? 2 hal ini sangat berharga untuk kita sadari kembali dengan hati yang baru. Yang pertama, kehidupan dalam keabadian nanti berbeda dengan kehidupan di dunia yang fana ini. Di dunia fana kita mengejar kekayaan, kemahsyuran, kepuasan bagi tubuh kita, cinta dari sesama manusia (termasuk dari kekasih dan suami/isteri). Akan tetapi di dalam kekekalan, yang terutama adalah kita hidup di hadapan Allah. Saya tidak tahu seperti apa, tetapi semua yang kita kejar di dunia fana ini tidak bermakna lagi ketika di dalam keabadian nanti.

Saudara-saudara, inilah yang hendak kukatakan kepadamu, yaitu bahwa daging dan darah tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah dan bahwa yang binasa tidak mendapat bagian dalam apa yang tidak binasa. (1Kor 15:50)

Tetapi aku, dalam kebenaran akan kupandang wajah-Mu, dan pada waktu bangun aku akan menjadi puas dengan rupa-Mu. (Mazmur 17:15)

Dalam kekekalan, apa yang kita dambakan dan kita kejar adalah hal-hal yang lebih mulia, bahkan pemazmur mengatakan, kepuasan berada di hadapan hadirat Tuhan, menjadi kebahagiaan baginya. Karena itu, Paulus menasehatkan dalam Kolose 3. Carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada.. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.

Yang kedua, di hadapan Allah tidak ada kematian. Apa artinya ini bagi kita? Kita bisa mempunyai cara pandang yang baru terhadap kematian. Kematian bukan akhir dari segalanya, melainkan justru awal dari kehidupan yang baru, yang kekal di depan Allah. Oleh karena itu, bagaimana cara kita ‘menyambut’ kematian kita adalah dengan mempersiapkan diri kita untuk kehidupan sesudah kematian itu. Bagaimana kita hidup hari ini, menentukan kehidupan seperti apa yang akan kita jalani nanti.

Orang yang bijaksana akan mengisi hidupnya yang fana ini, dengan melakukan apa yang berharga di hadapan Allah. Orang yang bijaksana tidak akan menghabiskan waktunya yang terbatas ini dengan melakukan kesia-siaan, tetapi akan berjuang untuk melakukan apa yang berkenan kepada Allah. Orang yang bijaksana akan menghargai setiap detik dari waktu yang diberikan Allah kepadanya, dan memakainya untuk kemuliaan Allah, karena waktu adalah anugerah yang diberikan Allah kepada manusia yang fana.

Ada 2 macam kehidupan yang kita akan jalani di dalam kekekalan, dan itu tergantung pada sikap hidup kita di dunia fana ini. Seperti nasehat Paulus ini: 3 Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. 4 Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamupun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan. 5 Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, 6 semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang-orang durhaka). 7 Dahulu kamu juga melakukan hal-hal itu ketika kamu hidup di dalamnya. 8 Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu (Kolose 3:3-8)

Mari, berjuang bukan untuk yang fana, tetapi untuk yang kekal abadi.


Kita itu warna-warni
berjalan wira-wiri
menyusuri hidup ini

tapi akhir kita satu
menghadap sang khalik
di depan mahkamah abadi

dalam abadi kita bisa satu,
tapi bisa juga dua
dan itu karena hari ini..

Sam-el Ladh

05
May

Lima Roti dan Dua Ikan

Markus 6 : 14 – 44, ayat pokok 6 : 37
Tetapi jawab-Nya: “Kamu harus memberi mereka makan!” Kata mereka kepada-Nya: “Jadi haruskah kami membeli roti seharga dua ratus dinar untuk memberi mereka makan?”

Bagian I – Hidup Seorang Hamba Tuhan

Kisah hidup Yohanes Pembaptis sungguh dramatis. Dia adalah anak sulung, dan mungkin juga anak tunggal, seorang Imam di Bait Suci. Dia lahir ketika kedua orangtuanya sudah berumur. Kelahirannya adalah kelahiran yang istimewa, karena malaikat menampakkan diri kepada ayahnya untuk memberitakan kelahiran itu. Bahkan ayahnya menjadi bisu sampai dia dilahirkan.

Sebagai seorang anak Imam, Yohanes berhak mewarisi jabatan Imam, posisi yang mempunyai status sosial yang tinggi di masa itu. Akan tetapi Yohanes yang dipenuhi oleh Roh Allah memilih untuk hidup di padang belantara, mengasingkan diri dari kehidupan duniawi dan hidup sepenuhnya dalam pengabdian kepada Allah. Dia digambarkan sebagai seorang yang memakai jubah bulu unta dan makanannya adalah belalang dan madu hutan.

Dia melakukan semua itu karena Allah mempunyai sebuah misi untuknya. Misi itu adalah mempersiapkan jalan bagi kedatangan Yesus Kristus, juruselamat manusia. Dia memberitakan Injil pertobatan kepada bangsa Israel yang selama ini hidup dalam kegelapan. Berita bahwa kerajaan Allah sudah dekat, karena itu setiap orang harus bertobat dari kehidupannya yang berdosa dan kembali kepada Allah. Berita yang dibawa Yohanes ini kemudian tersebar ke seluruh Israel, dan orang berbondong-bondong datang kepadanya di padang belantara, untuk mendengarkan berita itu, bertobat, dan dibaptis olehnya. Karena itulah dia dikenal sebagai Yohanes Pembaptis.

Namun pelayanannya yang populer itu berakhir ketika Herodes, raja Israel, tersinggung oleh tegurannya. Dia menegur Herodes yang mengambil Herodias, isteri saudaranya menjadi isterinya. Herodes memenjarakan Yohanes. Rupanya ini juga menjadi akhir dari segalanya bagi Yohanes. Dalam sebuah pesta, puteri Herodias, berhasil membujuk Herodes untuk memenggal kepala Yohanes Pembaptis.

Kehidupan Yohanes Pembaptis sungguh dramatis, namun yang seringkali membuat kita bertanya adalah akhir hidupnya yang begitu sedih. Dia melayani Allah dengan setia, mempersiapkan jalan bagi Kristus, namun tewas di tangan seorang raja boneka yang lalim, hanya karena persoalan pribadi sang raja. Sepertinya tidak ada sedikit kemuliaan pun yang tersisa bagi Yohanes, yang sudah menyerahkan segenap hidupnya untuk Allah. Yohanes melepaskan kesempatan menjadi Imam yang terhormat untuk melayani Allah. Dia hidup di padang belantara demi Allah. Akan tetapi Allah membiarkan dia berakhir seperti itu?

Saudara-saudari yang terkasih, itulah keindahan hidup seorang Yohanes Pembaptis. Sejak semula Yohanes memang tidak mencari kemuliaan bagi dirinya sendiri. Dia selalu berkata tentang dirinya sebagai suara orang yang berseru-seru di padang gurun, yang tak bernama dan tak dikenal. Sepanjang hidupnya diabdikan untuk Mesias yang akan datang itu, dan ketika Mesias itu sudah datang, dan hidupnya harus berakhir di tangan Herodes, itu pun adalah sukacita baginya.

Satu hal yang berharga untuk direnungkan dari kisah Yohanes Pembaptis adalah tentang motivasi seorang hamba Tuhan. Yohanes setia pada misi yang diberikan Allah kepadanya. Dia tidak menyimpang ke kanan dan ke kiri. Motivasi Yohanes juga adalah demi Allah semata-mata. Dia tidak mencari kehormatan dan kemuliaan di dunia ini. Kehormatan dan kemuliaan baginya tersedia di surga, disediakan baginya oleh Allah yang memanggilnya sebagai hamba-Nya. Itu juga yang seharusnya menjadi motivasi setiap kita dalam melayani Tuhan. Allah menyediakan semua kebutuhan kita untuk melayani-Nya, dan jangan jadikan kebutuhan-kebutuhan itu sebagai ‘harga yang harus dibayar Allah’ karena kita sudah melayani-Nya. Allah tahu dan mengerti kebutuhan hidup kita, karena itu mari melayani Dia dengan setia, sampai kesudahannya.

Bagian 2 – Hati Gembala

Kisah Yesus memberi makan lima ribu orang merupakan salah satu kisah mujizat Yesus yang paling populer. Ini salah satu kisah favorit ketika saya masih di sekolah minggu dulu. Yesus memberi makan lima ribu orang, itu pun baru laki-laki yang dihitung, hanya dengan lima ketul roti dan dua ekor ikan. Bahkan makanannya pun masih tersisa 12 baku lagi.

Apa yang berkesan bagi Anda dari cerita ini? Kuasa Yesus yang begitu hebat? Tentu. Kuasa Yesus memang menakjubkan. Namun selain itu ada satu hal lain yang mungkin lebih menakjubkan lagi. Itu adalah kasih Yesus yang memiliki hati seorang gembala terhadap manusia.

Cerita ini berawal dari keinginan Yesus dan murid-murid untuk mengadakan Retreat, mundur sejenak dari kesibukan pelayanan dan pergi ke tempat yang sepi untuk menyegarkan diri kembali. Akan tetapi niat ini diketahui oleh orang banyak, dan mereka pun berbondong-bondong mengikuti Yesus dan murid-murid ke tempat yang sepi itu. Ketika tiba di tempat itu dan melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.

Yesus sangat mengasihi orang banyak ini, dan Dia melihat kerinduan rohani mereka yang begitu besar. Mereka yang lama hidup dalam kekeringan rohani, begitu dipuaskan oleh firman Yesus. Oleh karena itu, ke manapun Yesus pergi, mereka mau ikut, untuk mendengarkan firman-Nya dan dipuaskan kekeringan rohani mereka. Yesus tidak pernah menolak orang-orang yang datang dengan penuh kerinduan kepada-Nya. Walaupun sebenarnya Dia ingin beristirahat dengan murid-murid, ketika ada orang-orang yang begitu rindu kepada firman-Nya, Dia tidak akan menolak mereka dan melayani mereka dengan segenap hati.

Orang banyak itu pun tenggelam dalam kekhusyukan menyimak firman yang disampaikan Yesus. Ada banyak hal yang diajarkan-Nya dan semua itu benar-benar memuaskan dahaga jiwa mereka. Begitu asyiknya mereka mendengarkan Yesus, mereka lupa bahwa mereka saat itu berada di tempat yang sepi, jauh dari desa-desa, dan bahwa hari mulai beranjak malam. Murid-murid Yesus menyadari hal itu, dan mengingatkan Yesus, bahwa Dia harus berhenti. Orang banyak itu tentu lapar, dan Yesus dan murid-murid perlu istirahat. Murid-murid menyarankan agar kerumunan itu dibubarkan, supaya orang banyak itu bisa pergi ke desa-desa terdekat untuk makan.

Akan tetapi, tempat itu adalah tempat yang sepi dan cukup jauh dari desa. Kerumunan orang banyak itu mulai sadar akan hal itu. Jika mereka bergegas kembali pun, mereka pasti akan kemalaman di jalan. Apalagi dengan perut yang lapar seperti itu. Orang banyak ini mulai tersadar. Yesus sudah memenuhi dahaga jiwa mereka, namun sekarang mereka menghadapi masalah yang lain, masalah yang lebih nyata.

Dari sini kita bisa melihat kasih Yesus yang sangat besar kepada mereka. Sebagai gembala yang mengasihi domba-domba-Nya, Yesus tidak bisa membiarkan mereka begitu saja. Dia menyuruh murid-murid untuk menyediakan makanan bagi orang banyak itu. Murid-murid terperanjat. Dengan apa mereka bisa menyediakan makanan untuk orang sebanyak itu. Bahkan salah seorang murid mengatakan 200 ratus dinar pun tidak akan cukup untuk memberi makan mereka semua. Namun Yesus menyuruh mereka untuk memeriksa, ada berapa banyak makanan yang ada pada mereka. Akhirnya mereka menemukan seorang anak yang membawa lima roti dan dua ikan sebagai bekal perjalanannya. Cerita selanjutnya kita semua sudah tahu: 41 Dan setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, supaya dibagi-bagikan kepada orang-orang itu; begitu juga kedua ikan itu dibagi-bagikan-Nya kepada semua mereka. 42 Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. 43 Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti dua belas bakul penuh, selain dari pada sisa-sisa ikan. 44 Yang ikut makan roti itu ada lima ribu orang laki-laki.

Ada dua hal penting untuk kita renungkan dari kasih Yesus sebagai gembala yang baik. Yang pertama, Dia tidak pernah menolak orang yang memiliki kerinduan rohani untuk datang kepada-Nya. Dia memuaskan dahaga jiwa dan kekeringan rohani semua orang yang datang kepada-Nya. Yang kedua, Yesus tidak hanya menyelesaikan masalah rohani saja, tetapi Dia juga menyediakan jawaban untuk masalah kenyataan hidup domba-dombanya. Yesus tidak menyuruh pergi begitu saja orang banyak itu, tetapi Dia menyediakan makanan, roti dan ikan, bagi mereka yang lapar.

Karl Marx mengecam agama sebagai candu bagi rakyat. Menurut Marx, agama seperti obat penenang yang sekedar membuat rakyat lupa sejenak akan masalah hidup mereka yang nyata. Mungkin ada banyak agama yang seperti itu. Akan tetapi Yesus tidak seperti itu. Dia tidak hanya membawa berita tentang surga yang nun jauh di sana, atau sekedar menenangkan hati dan menenteramkan jiwa dengan janji-janji negeri di atas awan sana. Dia datang untuk menyelesaikan masalah mendasar manusia, yaitu dosa-dosa yang membelenggu manusia, dan Dia datang untuk memberikan hidup yang baru bagi manusia, termasuk hidup bebas dari masalah-masalah yang nyata.

Betapa indahnya ketika kita bisa menjadi komunitas yang melayani domba-domba seperti yang dilakukan Yesus. Kita menolong setiap orang dengan firman Allah yang menyelamatkan jiwa mereka, namun kita juga siap memberi jalan keluar bagi masalah-masalah mereka yang nyata. Mereka yang lapar diberikan makanan, yang tidak punya tempat tinggal bisa berteduh, yang tidak punya pekerjaan, yang miskin, yang sakit, dan sebagainya, semuanya mendapat jalan keluarnya. Akan tetapi kita lalu bertanya, “apakah itu mungkin?”. Kita lalu berkata, “kita tidak bisa melakukan semuanya”, atau “kemampuan kita terbatas”. Itu juga yang dikatakan murid-murid dalam cerita ini.

Apa yang Yesus katakan kepada mereka? “Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!” Maksud firman ini adalah Yesus mengajarkan kepada kita iman yang hidup, yaitu bahwa tidak ada yang mustahil di dalam Yesus. Kita tidak bisa melakukan semuanya. Kemampuan kita terbatas. Itu artinya ada yang bisa kita lakukan, bukan? Yesus mengatakan untuk membawa apa yang ada pada kita kepada-Nya. Artinya, periksa apa yang kita bisa lakukan, lalu bawa kepada Yesus. Periksa apa yang ada pada kita, dan bawa kepada Yesus. Periksa berapa banyak tenaga yang ada pada kita, lalu bawa kepada Yesus. Dan bukankah kita semua sudah tahu, apa yang Yesus lakukan dengan apa yang kita bawa kepada-Nya?

Komunitas kita memang kecil dalam jumlah, dan tidak punya banyak uang juga. Akan tetapi Tuhan memanggil kita untuk menjadi gembala bagi umat manusia di dunia ini. Tuhan memberikan visi kepada kita untuk menjadi gembala bagi bangsa-bangsa di dunia ini. Tuhan memanggil kita untuk memberitakan Yesus Kristus kepada bangsa-bangsa, yaitu Yesus Kristus yang datang untuk menyelamatkan jiwa manusia dan yang datang untuk memberikan jalan keluar bagi masalah kehidupan yang nyata. Oleh karena itu, kita pergi kepada sesama kita yang tidak mampu, kepada mereka tertindas secara ekonomi, terpinggirkan dari kehidupan sosial, yang tidak hidup sebagaimana layaknya manusia ciptaan Allah. Kita pergi untuk memberitakan kasih Yesus Kristus kepada mereka, untuk memuaskan dahaga jiwa mereka dan untuk memberi mereka makan.

Bagaimana kita bisa melakukannya dengan keadaan kita yang seperti sekarang ini? Kita tidak punya cukup orang dan uang? Hari ini Yesus mengatakan kepada kita, “periksa apa yang ada pada kita, dan bawa kepada-Ku!”. Lima roti dan dua ikan itu, cukup untuk lima ribu orang yang lapar. Jangan katakan kita tidak bisa. Jangan katakan kita tidak punya apa-apa. Apa yang kita bisa lakukan, apa yang ada pada kita, bawa kepada Yesus! Ketika Yesus memberkatinya, karya yang ajaib terjadi.

Saudara-saudariku yang terkasih, saya punya banyak mimpi untuk komunitas ini. Itu adalah visi yang Tuhan berikan kepada saya. Saya melihat komunitas ini menjadi gembala yang memuaskan dahaga jiwa-jiwa yang tertindas oleh dosa, dan melepaskan orang-orang yang tertindas oleh kenyataan hidup yang menyedihkan. Itulah yang akan kita lakukan. Bukan dengan kekuatan kita sendiri, tetapi dengan kuasa Kristus, kuasa Roh Kudus. Bagaimana kita melakukannya? Pertama-tama mari miliki hati seorang gembala, yang tidak tahan melihat domba-domba yang kekeringan secara rohani, namun yang juga tidak menutup mata terhadap masalah-masalah mereka yang nyata. Kemudian mari membawa semua yang ada pada kita ke hadapan Kristus. Biarkan Dia mengambilnya dan memberkatinya, menjadi berlimpah-limpah, untuk kita memberkati domba-domba kita.

Kita mungkin komunitas yang kecil, tetapi kita bukan komunitas yang tidak berarti. Kita adalah komunitas yang dipanggil untuk merubah dunia ini menjadi lebih indah. Dengan Kristus di dalam kita, kuasa Roh Kudus memenuhi kita, kita akan melihat itu terjadi.

Di tanah kita yang hancur dan runtuh ini
Bunga suci akan bermekaran
Pohon-pohon kebenaran hijau membentang
Kita kan menyaksikannya

Amin.

Sam-el Ladh