Posts Tagged ‘ladh

17
Nov

Hidup Dalam Kasih

Bagi orang Kristen, seruan hidup dalam kasih mungkin sudah menjadi sangat klise. Kekristenan sangat identik dengan kasih. Bagi kita Allah adalah Kasih.

Akan tetapi, belakangan ini beberapa peristiwa yang terjadi dalam karya kita, membuat saya banyak berpikir tentang hal “hidup dalam kasih” ini. Pertanyaan-pertanyaan yang mendasar tentang persoalan ini tiba-tiba kembali datang dan mengurung saya dalam pemikiran-pemikiran yang menggelisahkan.

Mengapa saya harus hidup dalam kasih? Ini pertanyaan yang pertama datang kepada saya. Belum selesai merenungkan hal ini, pertanyaan lain sudah datang, hidup dalam kasih yang seperti apa yang harus saya jalani? Teladan kasih seperti apa yang harus saya ikuti? Sampai sejauh mana saya harus mengasihi? Demikianlah, pertanyaan-pertanyaan tersebut menghantui ruang pemikiran saya hari-hari ini.

Yohanes 13:34 Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.. 15:17 Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain.

Jawaban yang pertama kali datang kepada saya adalah firman Yesus ini. Mengasihi bukanlah sebuah pilihan atau anjuran, bagi seorang murid Kristus. Itu adalah perintah yang diberikan oleh Kristus sendiri. Di akhir masa hidupnya di bumi, Yesus Kristus memberikan perintah ini secara eksplisit kepada para murid-Nya, dan perintah ini diteruskan sampai kepada kita hari ini.

Teladan kasih yang diberikan kepada kita juga sudah sangat jelas. Yesus mengatakan bahwa kita harus saling mengasihi seperti Dia mengasihi kita. Bagaimana Dia mengasihi kita? Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya (Yoh 15:13). Dia mengasihi kita sampai akhir, yaitu sampai merelakan nyawa-Nya untuk mati di kayu salib demi kita yang dikasihi-Nya. Seperti itulah kita diperintahkan untuk mengasihi. Sampai sejauh itulah, kita harus mengasihi.

Akan tetapi, kekerasan hati saya membuat saya terus bertanya, tapi kenapa Tuhan? Kenapa Yesus memberikan perintah ini? Kenapa Dia bahkan merangkum semua hukum Allah di dalam dua hal ini: 30 Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. 31 Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. (Mark 12:30-31)

Ya, kenapa mengasihi, dan mengasihi seperti Yesus? Kenapa tidak cukup dengan melakukan ritual-ritual, peraturan-peraturan, dan menaati larangan-larangan Tuhan saja? Kenapa tidak cukup dengan memberikan persembahan-persembahan saja? Kenapa, dan kenapa? Tidakkah Tuhan tahu bahwa hal mengasihi itu adalah yang tersulit untuk dilakukan, karena manusia pada dasarnya adalah egois dan narsistis? Bukankah Tuhan tahu, bahwa tidak semua orang yang dikasihi akan meresponinya dengan syukur dan sembah, bahkan ada lebih banyak yang setelah dikasihi malah memalingkan wajah dan bahkan meludahi? Bukankah Tuhan tahu, manusia yang lemah dan tidak sempurna ini, lebih mudah membenci dan mencari kesalahan, daripada mengasihi dan memberikan dirinya sebagai korban demi kasih? Kenapa?

Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin bagi beberapa orang adalah pertanyaan seorang anak kecil. Akan tetapi, saya tidak bisa menyangkal bahwa pertanyaan-pertanyaan ini sungguh-sungguh menggelisahkan saya. Tuhan memerintahkan saya untuk mengasihi, dan mengasihi seperti Yesus telah mengasihi, tetapi kenapa? Dalam kegelisahan saya, saya menemukan surat Yohanes ini.

7 Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. 8 Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. 9 Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. 10 Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. 11 Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi. 12 Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita. (1 Yohanes 4:7-12)

Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita, dan telah mengutus anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. Ayat ini berbunyi begitu nyaring di dalam hati saya. Kemudian saya jadi teringat ayat hafalan wajib bagi anak sekolah minggu di zaman saya, Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yoh 3:16)

Saya harus mengasihi, bukan karena semua orang pantas dikasihi oleh saya. Saya harus mengasihi bukan karena semua orang akan menerima dan bersyukur terhadap kasih yang akan saya berikan. Saya harus mengasihi bukan karena saya akan mendapat pujian dan kemuliaan karena kasih yang saya berikan. Saya harus mengasihi semata-mata karena saya sendiri sebenarnya tidak pantas untuk dikasihi, namun telah dikasihi lebih dulu oleh Allah, dengan kasih yang melampaui segala akal manusia untuk memahaminya, kasih yang memberikan anak tunggal Allah untuk mati di kayu salib demi saya.

Itulah alasan pertama, dan terutama kenapa saya diperintahkan untuk mengasihi.

Mendapat jawaban ini, saya tidak bisa berkata-kata lagi. Siapa saya, sehingga saya pantas mempertanyakan perintah agung Tuhan kepada saya? Betapa lancang dan kurang ajarnya saya, mempertanyakan perintah Tuhan ini. Saya, yang tidak pantas dikasihi ini, telah dikasihi sedemikian rupa oleh Tuhan. Apalagi yang bisa saya lakukan, selain menuruti perintah-Nya?

Anda mungkin tidak sedang bergumul seperti saya. Akan tetapi, jika pertanyaan-pertanyaan seperti tadi datang kepada Anda, ingatlah bahwa Allah telah lebih dahulu mengasihi kita, jauh sebelum kita mengasihi Dia. Allah telah lebih dahulu memberikan Kristus untuk terpaku di kayu salib, jauh sebelum kita bahkan teringat kepada-Nya. Jangan lupakan hal ini juga, oleh karena dosa-dosa kita, kita paling pantas memperoleh hukuman kebinasaan kekal, namun Allah mengasihi kita lebih dulu.

Mari kita hidup dalam kasih. Kasih yang mengasihi tanpa menuntut syarat terlebih dahulu. Kasih yang juga tidak mengharapkan balas dan imbalan dari mereka yang kita kasihi. Kasih yang tidak menunggu untuk mengasihi, tetapi yang aktif mendahului untuk mengasihi. Bukan karena alasan apa-apa, hanya karena kita juga tidak pantas dikasihi, namun telah dikasihi sedemikian rupa oleh Allah yang maha kuasa.

Marilah kita hidup dalam kasih yang seperti ini, supaya dunia melihat Allah yang telah mengasihi dunia dan yang telah datang dan mati di kayu salib bagi dunia. Jangan heran dan terkejut dengan respon yang diberikan, tetapi tetaplah mengasihi. Bahkan ketika yang kita kasihi memalingkan wajahnya dari kita, meludahi bahkan melempari kita dengan batu. Mari tetap hidup dalam kasih. Mengasihi adalah perintah kita. Mengasihi adalah jalan yang ditentukan Allah bagi kita. Tidak ada jalan lain, karena Allah sendiri telah datang kepada kita, hanya melalui jalan itu.

Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita. Amin.

Sam-el Ladh

30
Oct

Apakah Kamu Tidak Mau Pergi Juga?

Yohanes 6:22-71, ayat pokok 6:67

Maka kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya: “Apakah kamu tidak mau pergi juga?”

Setelah cerita lima roti dua ikan yang begitu terkenal itu, ada sebuah cerita yang lebih menghebohkan sebenarnya. Hanya saja seringkali kita terlalu terpukau dengan mujizat yang Yesus lakukan sehingga kita lupa untuk merenungkannya secara mendalam.

Setelah peristiwa Yesus memberi makan kepada lima ribu orang itu, popularitas Yesus langsung meroket tajam. Orang banyak tidak mau lagi melepaskan Yesus pergi dari mereka. Sekarang mereka benar-benar mengekori Yesus. Betapa menyenangkannya. Siapa yang tidak senang popularitas? Yesus sekarang bisa berkata bahwa pelayanannya telah berhasil. Dia telah berhasil memikat banyak orang untuk menjadi pengikut-Nya. Bayangkan, ribuan orang mengekori Yesus ke mana pun Dia pergi! Dengan pengikut sebanyak itu, apapun yang Yesus mau kerjakan, sekarang menjadi mungkin.

Apakah Yesus merasa demikian? Yesus yang melihat begitu banyaknya orang yang mengekori Dia merasa sedih. Dia sedih karena Dia tahu apa motivasi mereka. Dia berfirman: “Yesus menjawab mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang. 27 Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.”

Mereka mengikuti Yesus bukan karena mereka mengenali Dia sebagai sang Mesias dari Allah yang datang untuk menyelamatkan mereka dari dosa, namun mereka mengikuti Dia karena mengenali Dia sebagai lumbung makanan mereka. Mereka berpikir bahwa dengan mengikuti Yesus mereka akan terjamin penghidupannya, mereka tidak akan lapar lagi karena Yesus selalu akan bisa menyediakan makanan yang mereka perlukan. Itulah yang membuat hati Yesus sedih, karena Yesus bukan datang untuk menyediakan makanan jasmani saja. Yesus mengatakan kepada mereka untuk mencari makanan yang bertahan sampai hidup yang kekal. Dia lalu berbicara mengenai roti hidup yang akan bertahan sampai selama-lamanya, yang Allah mau berikan kepada manusia melalui-Nya.

Begitu mendengar tentang roti itu, orang banyak langsung senang lagi dan meminta Yesus untuk segera menyediakannya bagi mereka. Jawab Yesus: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi. 36 Tetapi Aku telah berkata kepadamu: Sungguhpun kamu telah melihat Aku, kamu tidak percaya. 37 Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. 38 Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku. 39 Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman. 40 Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.”

Kepada mereka yang lapar akan roti hidup itu, Yesus menyatakan siapa diri-Nya sesungguhnya. Dia adalah roti hidup dari surga, yang diberikan Allah kepada manusia, supaya setiap orang yang menerima-Nya tidak akan dibinasakan pada hari penghakiman nanti, melainkan akan dibangkitkan dan memperoleh hidup yang kekal. Mendengar firman ini, apakah respon yang Anda bisa bayangkan dari orang banyak itu? Yesus menyatakan bahwa Dia datang untuk menyelesaikan masalah yang lebih besar daripada sekedar masalah makanan sehari-hari, Dia datang untuk menyelesaikan masalah dosa dan penghakiman manusia. Akan tetapi coba lihat apa respon orang banyak, mereka bersungut-sungut dan tidak bisa menerima. Mereka malah mempersoalkan asal usul Yesus yang anak seorang tukang kayu biasa dari Nazaret! Mereka tidak bisa memahami kata-kata Yesus bahwa Dia menyerahkan diri-Nya sebagai roti hidup untuk dinikmati oleh semua orang yang berdosa, agar mereka beroleh keselamatan dan terbebas dari hukuman di akhir zaman. Orang banyak itu tidak bisa mengerti bahwa Yesus sedang membicarakan tentang kematian-Nya di kayu salib bukan soal makanan jasmani. Yesus berfirman lagi: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. 54 Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. 55 Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. 56 Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.

Kita mungkin tertawa melihat kesalahpahaman orang banyak ini. Di kepala mereka yang ada hanyalah soal makanan karena itu mereka tidak sadar bahwa Yesus sedang berbicara dengan bahasa kiasan tentang diri-Nya. Akan tetapi betapa menyedihkannya melihat bahwa orang banyak yang telah menikmati mujizat yang begitu luar biasa itu akhirnya satu per satu meninggalkan Yesus. Mereka pergi dengan sungut-sungut bahwa pengajaran Yesus terlalu keras, tidak bisa diterima. Yesus memang luar biasa tapi ajarannya tidak cocok untuk mereka. Yesus mengatakan bahwa Dia mengajak mereka untuk menjadi satu dengan Dia. Makan daging dan minum darah adalah simbol unifikasi/penyatuan. Yesus tidak tertarik dengan orang-orang yang hanya mau makan roti saja dari Dia tetapi Dia mencari orang-orang yang mau menyatu dengan diri-Nya dalam kematian-Nya. Makan daging dan minum darah-Nya! Ini terlalu keras, terlalu ekstrem. Maaf saja Yesus, sayonara.

Murid-murid yang bersama Yesus pun menyetujui hal itu. Mereka merasa wajar orang banyak pergi. Tidak banyak yang siap untuk mengambil resiko bersama Yesus, anak seorang tukang kayu dari Nazareth itu. Di sinilah permasalahan itu. Orang banyak tidak bisa melihat Yesus lebih daripada seorang anak tukang kayu. Padahal, Yesus membuat begitu banyak tanda dan mujizat untuk menunjukkan bahwa Dia bukan hanya anak seorang tukang kayu dari Nazareth, Dia adalah Mesias yang diutus Allah bagi manusia. Jalan ke-mesias-an-Nya adalah jalan salib. Dia memanggil orang-orang untuk mengikuti-Nya sebagai murid-murid yang berbagi hidup dengan-Nya, yang berjalan di jalan yang sama dengan-Nya. Memang Dia memberi mereka makan, bertanggung jawab atas hidup mereka, namun mereka juga harus dengan rela siap menanggung semua resiko yang harus dihadapai di jalan yang mereka tempuh bersama Yesus.

Yesus sedih melihat kenyataan ini. Bahkan murid-murid Yesus pun ada yang tergoncang imannya karena mendengar perkataan Yesus tentang siapa diri-Nya sebenarnya. Karena itu Yesus pun bertanya kepada murid-murid, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” .

Hari ini saya mau mengajak kita semua mendengar pertanyaan ini sebagai pertanyaan bagi diri kita pribadi. Yesus sedang bertanya kepada Anda, kepada saya, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Ini adalah pertanyaan yang sangat penting bagi kita semua. Pertanyaan ini menanyakan kepada kita, apakah yang kita cari dari Yesus. Apakah kita mencari makanan, roti dan daging bagi hidup kita sehari-hari? Apakah kita mencari berkat-berkat jasmani dari Yesus si pembuat mujizat, anak seorang tukang kayu dari Nazaret? Ataukah kita mencari hidup yang kekal dari sang Mesias yang diutus Allah dan rela melakukan apa saja demi mengikuti Dia sebagai murid-Nya? Lihat orang banyak yang makan sampai kenyang itu telah pergi meninggalkan Dia. Lihat mereka jugalah yang nanti akan berteriak-teriak “Salibkan Dia!”. Siapakah yang Anda cari? Apakah Anda tidak mau pergi juga?

Banyak yang pergi, namun ada juga tetap tinggal. Petrus menjawab Yesus: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah.

Betapa Yesus terhibur oleh jawaban ini. Petrus tidak sedang mencari muka di depan Yesus, dia meninggalkan segala sesuatunya untuk mengikuti Yesus, dan dia tahu siapa yang diikutinya. Dia datang untuk menjadi murid Yesus yang mengikuti Yesus dengan setia di jalan-Nya. Oleh karena itu, Yesus mengatakan kepadanya, bahwa Yesus sendirilah yang memilih dia dan sebelas orang yang lain untuk menjadi murid-Nya, meskipun di antara mereka ada terselip satu orang yang akan mengkhianati Dia. Bagaimana dengan Anda? Yesus menanti jawaban Anda sekarang. Dia memanggil Anda, Dia mau memilih Anda juga. Amin

Sam-el Ladh

01
Sep

Selamat Datang Era Pentakosta

Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.( Kisah Para Rasul 1:8)

Ketika mendengar bahwa Shine mencanangkan tahun 2007 sebagai Era Pentakosta, banyak orang bertanya kepada saya apa maksudnya. Kebanyakan menyangka bahwa Shine akan menjadi lebih ‘karismatik’, dengan perubahan-perubahan pada cara beribadah, memuji Tuhan, dan berdoa. Banyak juga yang kemudian merasa kurang nyaman dengan hal ‘pentakosta’ ini dan memperingatkan macam-macam hal. Banyak yang takut bahwa Shine akan bergabung dalam arus mereka yang mengagung-agungkan ‘karunia-karunia’, terutama dengan diberikannya ruang bagi ‘bahasa roh’. Melihat reaksi yang begitu luas seperti itu sejenak saya tertegun. Rupanya bagi banyak orang telah tertanam sebuah makna tertentu tentang kata ‘pentakosta’. Lalu sebenarnya apa maksudnya ‘Era Pentakosta’ bagi Shine? Melalui renungan hari ini saya akan mencoba sedikit memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut.

Pentakosta artinya hari kelima puluh. Bagi orang Kristen ini identik dengan hari ketika Roh Kudus tercurah secara besar-besaran ke atas murid-murid Yesus di Yerusalem, lima puluh hari setelah kematian Yesus. Peristiwa ini menandai dimulainya gereja perdana, ketika murid-murid yang dipenuhi bermacam-macam karunia, melanda kota Yerusalem dengan Injil dan menobatkan ribuan orang setiap hari. Begitu dahsyatnya kuasa illahi yang bermanifestasi melalui peristiwa ini sehingga hari pentakosta cenderung lebih dimaknai sebagai ‘hari turunnya karunia-karunia Roh Kudus’. Oleh karena itu, ketika orang mendengar kata ‘pentakosta’, yang pertama kali akan terpikir adalah ‘karunia-karunia Roh Kudus’, bahkan lebih spesifik lagi: ‘bahasa roh’.

Memang di hari pentakosta terjadi banyak sekali manifestasi kuasa Allah melalui karunia-karunia Roh Kudus dan bahasa roh, namun apa yang sebenarnya terjadi di hari itu adalah permulaan sebuah era / zaman. Zaman itu adalah zaman penyertaan Roh Kudus, yang melekat pada mereka yang percaya kepada Kristus, untuk menolong mereka melakukan apa yang diajarkan oleh Kristus. Hal ini sebelumnya telah dijanjikan Yesus kepada murid-murid. 15 “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. 16 Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, 17 yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.” (Yohanes 14:15-17)

Ketika Yesus mengatakan hal ini, murid-murid dalam ketakutan karena Yesus mengatakan bahwa Dia akan mati di kayu salib. Namun Yesus menguatkan hati mereka dengan mengatakan bahwa Dia memang akan mati, bangkit, dan naik ke surga, namun murid-murid tidak pernah ditinggalkan sendirian. Malah Penolong yang lain akan datang, dan Penolong ini akan menolong murid-murid dari dalam diri mereka, yaitu dengan diam di dalam mereka. Penolong ini adalah Roh Kudus yang menyatakan diri-Nya melalui peristiwa di hari kelima puluh itu. Roh Kudus ini adalah Roh Kristus, yang diam di dalam setiap orang yang percaya kepada Kristus, Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus. (Roma 8:9). Jadi ketika Roh Kudus tercurah secara besar-besaran, sebenarnya itu adalah sebuah proklamasi Kristus yang berdiam di dalam diri setiap pengikutnya.

Lalu untuk apa Roh Kudus menyatakan dirinya seperti itu dan diam di dalam murid-murid? Yang pertama kita sudah lihat tadi, yaitu untuk menolong murid-murid melakukan semua yang diajarkan oleh Kristus. Yang kedua, Roh Kudus berdiam di dalam murid-murid untuk sebuah tugas khusus, yaitu menjadi saksi Kristus. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi. (Kis 1:8)

Era Pentakosta, karena itu, bisa dipahami sebagai ini: era di mana Roh Kudus diam di dalam setiap orang yang percaya kepada Kristus, untuk menolong mereka melakukan semua yang diajarkan Kristus, dan era di mana semua orang yang percaya kepada Kristus itu pergi dan menjadi saksi Kristus sampai ke ujung bumi. Jadi penanda dari era Pentakosta ini adalah lahirnya orang-orang yang melakukan semua yang diajarkan Kristus dengan setia, dan orang-orang yang pergi menjadi saksi Kristus sampai ke ujung bumi. Hal-hal yang lain yang akan menyertai adalah memang karunia-karunia Roh Kudus. Yesus mengatakan: Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. (Yohanes 14:12). Jadi tidak perlu heran ketika melihat tiba-tiba terjadi manifestasi kuasa Roh Kudus melalui karunia-karunia di dalam Shine juga, karena itu adalah salah satu konsekuensi dari dimulainya Era Pentakosta. Hanya saja memang bukan itu yang kita utamakan dan cari-cari selalu. Yang kita kejar adalah Roh Kudus itu, yang berdiam di dalam kita, dan memampukan kita untuk melakukan semua yang diajarkan Kristus dengan setia, dan memampukan kita untuk menjadi saksi Kristus sampai ke ujung bumi.

Pencanangan Era Pentakosta bagi Shine sebenarnya adalah pencanangan era di mana semua Shiner hidup dengan setia melakukan semua yang diajarkan Kristus dan semua Shiner memberi diri untuk menjadi saksi Kristus sampai ke ujung bumi. Bukankah dari dulu sudah seperti ini? Jawaban yang seharusnya diberikan adalah ‘ya’. Akan tetapi kalau mau jujur, banyak dari kita akan dengan sedih menjawab ‘sebenarnya sih… belum’. Oleh karena itu, sekarang kita mau mencanangkan hal itu dengan terbuka, dan berjuang keras untuk mewujudkan kehidupan yang seperti itu di dalam komunitas Shine.

Melakukan apa yang diajarkan Kristus melalui firman-Nya dan menjadi saksi Kristus sampai ke ujung bumi. Banyak orang akan mengatakan bahwa ini sulit sekali. Mungkin memang sulit. Akan tetapi bukankah Roh Kristus, Roh Kudus itu diam di dalam kita? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya (Markus 9:23). Yang kita harus lakukan sekarang adalah bersekutu dengan Roh Kudus itu, mengizinkan Dia untuk menguasai hidup kita seluruhnya, memimpin dan mengarahkan hidup kita, mengajar dan membimbing kita. Secara praktisnya bagaimana? Praktisnya adalah dengan memberi lebih banyak waktu untuk bersekutu, merenungkan firman Allah dan berdoa. Praktisnya adalah melatih tubuh kita untuk melakukan apa yang diajarkan Kristus, menjadikan ajaran Kristus sebagai moral guide perilaku kita. Tubuh yang sebelumnya terbiasa melakukan apa yang disukai oleh ‘daging’, dilatih untuk melakukan apa yang diajarkan oleh Kristus, seperti Paulus yang mengatakan: No, I beat my body and make it my slave (1 Kor 9:27-NIV).

Hidup di dalam Era Pentakosta pertama-tama akan dilihat sebagai ‘hidup dalam perjuangan’. Kita berjuang untuk memberi lebih banyak waktu untuk bersekutu. Kita berjuang untuk menguasai tubuh kita, hati dan pikiran kita yang seringkali membawa kita melakukan dosa. Akan tetapi hidup di dalam Era Pentakosta harus dilihat juga sebagai ‘hidup dalam kemenangan’. Kita menikmati kemenangan atas keinginan-keinginan daging yang membawa kita kepada dosa. Kita menikmati kemenangan atas iblis!

Yang terakhir, Akibat dari Era Pentakosta. Yang terjadi setelah peristiwa Pentakosta di Yerusalem adalah Injil tersebar ke seluruh dunia. Lahir komunitas orang percaya yang sungguh indah, yang penuh kasih dan kuasa Allah serta kerelaan memberitakan Injil. Akibat dari Era Pentakosta Shine adalah lahir barunya komunitas Shine sebagai komunitas yang penuh kasih dan kuasa Allah, yang rela memberitakan Injil sampai ke ujung bumi. Ini akan ditandai dengan banyaknya orang yang dibawa kembali kepada Allah, daerah-daerah baru yang dijangkau dengan kabar baik dari Allah, dan diutusnya para saksi ke tempat-tempat yang merupakan ‘ujung bumi’ bagi Injil. Secara pribadi saya mau Era Pentakosta ini membuat Shine lebih bersinar dengan karya-karya kasih yang nyata, melanda Indonesia dengan kasih Allah yang melampaui batas-batas yang dibuat manusia, melayani yang tersisih dan terbuang dan menjadikan mereka manusia baru yang berpengharapan. Saya juga mau melihat Shine menjadi rumah bagi lebih banyak lagi orang-orang muda yang mengasihi Kristus dan yang mau hidup dengan melakukan apa yang diajarkan Kristus. Rumah di mana orang-orang muda itu belajar, dilatih, dan dibentuk sampai siap menjadi saksi-saksi Kristus sampai ke ujung bumi.

Itulah Era Pentakosta kita, yang sudah kita mulai sekarang. You may say I am a dreamer, but I am not the only one…

Sam-el Ladh