Archive for January, 2009

06
Jan

Membuka Jalan Bagi Kehadiran-Nya

Natal adalah momentum yang istimewa bagi umat Kristen di zaman modern ini. Kesibukan menyiapkan pohon Natal dan hiasan-hiasannya sudah dimulai sejak awal bulan Desember. Di pusat-pusat perbelanjaan kita bisa melihat hiasan Natal yang berwarna-warni serta tulisan selamat Natal dengan berbagai variasinya sudah dipajang. Yang menyenangkan juga adalah pesta diskon yang ditawarkan dalam rangka “menyambut Natal” pun bertebaran dan menggoda kita untuk menghabiskan uang THR kita. Belum lagi rengekan anak-anak yang memanfaatkan momen Natal sebagai saat untuk mendapatkan hadiah-hadiah istimewa.

            Natal memang istimewa dan patut dirayakan dengan istimewa. Mengapa? Natal istimewa karena Natal adalah saatnya kita merayakan momentum kasih karunia, ketika Allah datang ke tengah-tengah umat manusia, melalui kelahiran Yesus Kristus di Betlehem. Injil Matius mencatat, kelahiran Yesus merupakan penggenapan nubuat nabi Yesaya,“Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” yang berarti: Allah menyertai kita.” (Mat 1:23)

            Natal adalah kehadiran Allah, Imanuel. Oleh karena itu saya suka sekali dengan tema yang dipilih panita Natal kali ini: “Membuka Jalan bagi Kehadiran-Nya”. Saya percaya setiap kita di tempat ini tentu tidak ingin melewatkan Natal tanpa kehadiran sang Imanuel itu.

            Hal ini penting bagi kita untuk direnungkan, karena kehidupan modern telah membuat Natal menjelma menjadi sebuah peristiwa budaya yang dirayakan dengan simbol-simbol tertentu. Ada sinterklas, pohon natal, dan hadiah-hadiah. Semua simbol mempunyai makna, yang bila ditelusuri bisa memberi hikmah yang baik. Akan tetapi, sayangnya satu hal yang menonjol  dalam peristiwa Natal di dunia modern adalah  Natal sudah menjadi momentum konsumerisme. Natal menjadi saat di mana kita jor-joran berbelanja. Bahkan negeri tetangga kita, Singapura, menjadikan Natal sebagai momen untuk meluncurkan program wisata belanjanya. Akan tetapi, saudara-saudari yang terkasih, apakah artinya Natal bila di sana tidak ada sang bayi Imanuel? Oleh karena itu marilah kita menyambut kehadiran sang Imanuel itu dalam kehidupan kita.

            Lalu, bagaimana kita membuka jalan bagi kehadiran sang bayi Imanuel dalam hidup kita, khususnya melalui momentum Natal ini? Bila kita ingin mengundang seorang tokoh VIP, tentu kita akan membuat persiapan-persiapan, bahkan melakukannya sejak jauh-jauh hari untuk memastikan bahwa sang tokoh tidak mempunyai kesibukan lain. Lalu bagaimana dengan sang Imanuel? Apakah yang harus dipersiapkan?

            Hari ini saya mengajak kita untuk melihat seorang tokoh yang luar biasa yang diceritakan oleh Injil Lukas kepada kita. Dia bisa menjadi teladan yang indah bagi kita tentang sikap membuka jalan dan menerima kehadiran sang Imanuel. Mari kita baca bersama Lukas 1:26-38.

Lukas 1:26-38

26 Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, 27 kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. 28 Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” 29 Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. 30 Kata malaikat itu kepadanya: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. 31 Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. 32 Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, 33 dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.” 34 Kata Maria kepada malaikat itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” 35 Jawab malaikat itu kepadanya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. 36 Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. 37 Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” 38 Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia.

            Maria adalah seorang perawan dari sebuah kota kecil di Galilea bernama Nazaret. Nazaret ini bukanlah kota yang terpandang di masa itu. Kota yang miskin secara ekonomi dan dari segi kehidupan rohani pun tidak istimewa. Bahkan Natanael, seorang murid Yesus pernah berkata: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” (Yoh 1:46). Perempuan biasa dari sebuah kota yang biasa, Alkitab juga tidak memberikan catatan lain mengenai sosok Maria ini. Kita bisa membayangkan bagaimana kehidupan keseharian seorang perempuan di kota seperti Nazaret di zaman itu. Di zaman itu belum ada emansipasi wanita seperti sekarang. Kaum perempuan hanya bisa di rumah, mengurus urusan rumah tangga, dan impiannya pun hanya sebatas bagaimana nantinya menjadi ibu rumah tangga yang baik. Akan tetapi, kehidupan gadis biasa bernama Maria ini berubah total di suatu hari.

        “Salam hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau!… Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. 31 Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. 32 Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, 33 dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan… Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.”

            Satu hal yang istimewa tentang kehadiran sang Imanuel adalah bahwa kedatangan-Nya merupakan kasih karunia dari Allah untuk manusia. Kasih karunia (grace) artinya adalah sebuah pemberian yang diberikan berlawanan dengan keadaan orang yang menerimanya. Kedatangan sang Imanuel adalah atas inisiatif Allah untuk umat manusia. Hal yang istimewa yang kedua adalah kasih karunia Allah diberikan pertama-tama kepada mereka yang paling membutuhkan kasih karunia. Mereka yang dianggap paling remeh di dunia ini (the least), seperti seorang gadis lugu dari kota kecil tak terpandang ini. Oleh karena itu sesungguhnya tidak ada seorangpun yang dikecualikan oleh sang Imanuel. Dia datang kepada setiap orang, tanpa memandang seperti apa rupanya, kondisi ekonominya, bahkan moralnya!

            Oleh karena itu yang penting bagi kita adalah bagaimana respon kita terhadap kasih karunia yang diberikan Allah kepada kita ini. Mari kita belajar dari Maria tentang hal ini. Mari periksa bagaimana jawaban yang dia berikan kepada malaikat yang datang kepadanya. Kita bisa melihat bahwa pertama-tama dia terkejut dan bertanya-tanya dalam hati. Apa maksudnya, kenapa datang kepadaku? Kemudian ketika diberitahukan tentang anak yang akan dilahirkannya, dia mengemukakan fakta bahwa dia masih perawan, belum menikah. Dua respon ini adalah dua respon yang wajar sebagai seorang manusia. Seringkali kita menemukan bahwa kasih karunia Allah rasa-rasanya kok tidak cocok dengan keadaan kita. Seringkali kita juga merasa bahwa kasih karunia Allah sepertinya tidak masuk akal. Akan tetapi, yang membuat Maria istimewa adalah responnya yang terakhir di ayat 38. Ketika malaikat itu mengatakan bahwa bagi Allah tidak ada yang mustahil, Maria menjawab: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”

        “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Inilah kata kunci bagi kehadiran sang Imanuel dalam hidup kita. Lihat, Maria tidak bertanya-tanya lagi, mengenai kesulitan apa yang akan dia hadapi sebagai seorang belum bersuami tetapi mengandung seorang bayi. Maria tidak mencemaskan reaksi Yusuf, atau penjelasan apa yang harus diberikannya kepadanya. Tidak. Tidak ada lagi pertanyaan atau bantahan, hanya “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”

            Hari ini kita merayakan Natal. Yesus Kristus sang putera Allah yang maha tinggi itu, juga mau hadir di tengah-tengah kita. Dia mau hadir untuk memberikan pengharapan yang baru kepada kita. Dia mau hadir untuk memberikan hidup yang baru, yaitu kebebasan dari belenggu dosa. Dia juga punya banyak hadiah lain untuk memberkati hidup kita bersama dengan-Nya. Dengan sikap apakah kita mau menyambut Dia?

Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Amin.

 

Sam-el Ladh