04
Oct

Happy 27th Anniversary, Christ Love Fellowship!

Hari ini, sambil merayakan ulang tahun gereja kami yang ke-27, kami merenungkan perintah Yesus kepada murid-muridnya, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” (Yoh 13:34)

Mengasihi adalah sesuatu yang abstrak, namun perintah Yesus ini sangat konkret. Dia memerintahkan untuk mengasihi dengan cara “Sama seperti aku telah mengasihi kamu”. Bagaimanakah Yesus sudah mengasihi kita? Dia mengasihi kita dengan mengosongkan dirinya, mengambil rupa seorang hamba, merendahkan dirinya dan taat sampai mati - bahkan mati di kayu salib (Filipi 2:5-8).

Kami bersyukur karena Dia mengasihi kami seperti itu. Kami juga bersyukur Dia telah memberikan perintah ini kepada kami. Perintah yang membawa pendahulu-pendahulu kami melintasi samudera mendapatkan kami, untuk mengajarkan kami perintah yang sama, “sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.”

Hari ini kami tetap bernyanyi “Called of God we honor the call”, karena kami percaya, panggilan untuk mengasihi seperti Yesus telah mengasihi kami, merupakan panggilan kami juga. Panggilan yang akan kami hormati dan hidupi, sampai hari kami bertemu Yesus kembali, muka dengan muka.

Selamat ulang tahun, Christ Love Fellowship! Terima kasih untuk kasih yang telah dibagikan kepada kami!

Selamat ulang tahun yang ke-27, Christ Love Felloship

Selamat ulang tahun yang ke-27, Christ Love Fellowship

20
Feb

Hanya Satu Kekuranganmu

17 Pada waktu Yesus berangkat untuk meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya: “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” 18 Jawab Yesus: “Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja. 19 Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!” 20 Lalu kata orang itu kepada-Nya: “Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku.” 21 Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya. (Markus 10:17-22)

Alkisah seorang raja yang sedang menghadapi ajalnya memanggil pembantu setianya. Sang raja menyatakan kepada pembantunya yang sudah bersamanya puluhan tahun itu, bahwa ia takut menghadapi ajalnya yang dirasanya sudah sangat dekat itu. Dia merasa belum siap untuk mati.

Mendengar itu pembantunya tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. “Mohon ampun, paduka yang mulia”, sang pembantu berkata. “Hamba belum pernah mendengar sesuatu yang lebih lucu daripada hal ini.

Selama hamba menjadi pembantu Raja, hamba memperhatikan bahwa setiap kali paduka Raja hendak mengadakan perjalanan ke suatu negeri, paduka selalu melakukan persiapan yang matang untuk keberhasilan perjalanan itu. Paduka bahkan mengutus orang untuk menyiapkan segala sesuatu yang bersangkutan dengan kunjungan paduka. Hamba tertawa, karena sebentar lagi paduka akan melakukan perjalanan yang terpenting dalam hidup paduka. Bagaimana mungkin paduka belum melakukan persiapan sama sekali?”

Kehidupan setelah kematian memang adalah sebuah misteri. Bagi kita yang percaya, kematian merupakan pintu menuju kehidupan kekal. Hanya pertanyaannya, kehidupan kekal yang seperti apa?

Orang yang datang mendapati Yesus dalam kisah Injil tadi juga mempunyai pertanyaan yang sama. Dia bertanya kepada Yesus, apa yang harus dia perbuat supaya memperoleh hidup yang kekal. Orang ini masih lebih baik dari sang Raja dalam ilustrasi tadi. Dia menyadari akan kehidupan kekal itu dan dia sudah melakukan persiapan-persiapan untuk menuju ke sana. Kepada Yesus dia mengatakan bahwa dia sudah menuruti segala perintah Allah, jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu. Semua itu sudah dilakukannya sejak masa mudanya. Namun dia tetap ingin tahu, satu hal untuk memastikan bahwa dia akan memperoleh hidup yang kekal bersama dengan Allah.

Sayang sekali, cerita ini juga berakhir dengan sedih. Satu hal yang dia cari itu ternyata menurut Yesus adalah “juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Orang itu pun menjadi kecewa dan pergi meninggalkan Yesus dengan sedih.

Melalui renungan ini saya tidak hendak menakut-nakuti siapapun. Saya percaya kita semua punya kesadaran seperti orang yang datang kepada Yesus ini. Kita tahu bahwa kita harus melakukan sesuatu, supaya kekekalan yang kita akan jalani setelah kematian nanti bukanlah kebinasaan kekal tetapi hidup yang kekal. Saya percaya di sini tidak ada yang seperti Raja yang bodoh tadi, yang lupa membuat persiapan untuk perjalanan terakhirnya.

Jadi, persiapan seperti apakah yang sudah Anda lakukan? Kalau kita mau mengunjungi suatu tempat, tentu persiapan yang kita lakukan akan kita sesuaikan dengan tempat yang kita akan kunjungi. Kalau kita mau pergi ke pantai, persiapan kita akan berbeda kalau kita mau pergi ke gunung. Kalau kita akan pergi ke negeri yang bersalju, persiapan kita akan berbeda dengan kalau kita mau pergi ke negeri berpadang pasir. Oleh karena itu apa yang dilakukan orang yang datang kepada Yesus ini sebenarnya sudah tepat. Dia percaya bahwa Yesus adalah Guru yang diutus oleh Allah, karena itu dia datang kepada Yesus untuk mencari tahu, persiapan seperti apa yang paling tepat, yang harus dilakukannya.

Sebagai seorang Yahudi, orang ini juga sebenarnya sudah berada di jalur yang benar dalam mempersiapkan ‘perjalanan terpenting’nya itu. Dia hidup berpadanan pada hukum taurat. Akan tetapi, mengapa cerita orang ini harus berakhir dengan sedih seperti ini?

Ada yang mengatakan bahwa alasan cerita orang ini berakhir sedih adalah karena dia adalah seorang yang self-rigtheous. Orang ini sebenarnya sudah merasa bahwa dirinya benar ketika dia datang kepada Yesus. Dia hanya mau mendapat pengakuan dari Yesus mengenai ‘kebenaran’ dirinya itu. Ini mungkin ada benarnya juga. Akan tetapi, dalam renungan ini saya mau mengajak kita untuk melihat bahwa masalah bagi orang ini mungkin terletak pada kesenjangan antara apa yang dianggapnya sebagai sesuatu yang terutama dengan apa yang dianggap Yesus sebagai yang terutama.

Bagi orang yang datang kepada Yesus ini, yang terutama adalah ‘kebaikan’ dan kesempurnaannya ditentukan oleh perbuatan-perbuatan yang baik. Kesenjangan ini sudah terlihat ketika dia menyapa Yesus sebagai ‘guru yang baik’, Yesus menjawabnya bahwa “tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja”. Kesempurnaan yang dianjurkan Yesus adalah “juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin.”

Dalam mempersiapkan ‘perjalanan terakhir’ kita, merupakan sesuatu yang penting untuk menyadari kesenjangan ini. Menjual segala yang dimiliki, memberikan kepada orang miskin, dan mengikuti Yesus. Itu adalah rumusan yang diberikan sebagai kesempurnaan oleh Yesus. Kalau kita membaca Matius 25:31-46, kita bisa melihat rumusan yang serupa. Yesus bercerita mengenai penghakiman terakhir. Ketika Yesus datang untuk menghakimi manusia, ukuran yang dipakainya adalah ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku

Di penghakiman terakhir Yesus tidak bertanya berapa banyak hukum yang sudah dilaksanakan. Dia hanya bertanya, dimanakah kita ketika ada yang membutuhkan pertolongan kita. Di penghakiman terakhir, Yesus tidak bertanya apa saja keberhasilan yang sudah diraih. Dia hanya bertanya, sudah seberapa pedulikah kita terhadap mereka yang membutuhkan uluran tangan kita. “sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.”

Melalui renungan ini, saya hanya mau mengajak kita untuk berpikir sejenak. Seperti apakah kita menjalani kehidupan kita di hadapan Tuhan. Apakah kita seperti orang yang datang kepada Yesus ini, yang mengisi hidupnya dengan berjuang untuk melakukan peraturan-peraturan hukum taurat, namun lupa bahwa disekitarnya ada banyak sekali orang miskin yang berjuang hanya untuk bisa hidup dari hari ke hari? Apakah kita seperti orang ini, yang merasa bahwa dirinya sudah cukup benar karena hidup sesuai hukum taurat, namun akhirnya pergi meninggalkan Yesus dengan hati yang sedih?

Sesungguhnya kebaikan dan kesempurnaan kita peroleh melalui kasih karunia. Itu bukan hasil usahamu tetapi pemberian Allah (bd Efesus 2:8-9). Akan tetapi, Yesus memanggil kita untuk memperhatikan sesama kita, memberikan pertolongan kepada mereka yang membutuhkan, karena dengan itulah kita menjadi pengikut-pengikut Yesus yang sejati.

Anda dan saya mungkin sudah berbuat banyak bagi Yesus. “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.


Sam-el Ladh

06
Jan

Membuka Jalan Bagi Kehadiran-Nya

Natal adalah momentum yang istimewa bagi umat Kristen di zaman modern ini. Kesibukan menyiapkan pohon Natal dan hiasan-hiasannya sudah dimulai sejak awal bulan Desember. Di pusat-pusat perbelanjaan kita bisa melihat hiasan Natal yang berwarna-warni serta tulisan selamat Natal dengan berbagai variasinya sudah dipajang. Yang menyenangkan juga adalah pesta diskon yang ditawarkan dalam rangka “menyambut Natal” pun bertebaran dan menggoda kita untuk menghabiskan uang THR kita. Belum lagi rengekan anak-anak yang memanfaatkan momen Natal sebagai saat untuk mendapatkan hadiah-hadiah istimewa.

            Natal memang istimewa dan patut dirayakan dengan istimewa. Mengapa? Natal istimewa karena Natal adalah saatnya kita merayakan momentum kasih karunia, ketika Allah datang ke tengah-tengah umat manusia, melalui kelahiran Yesus Kristus di Betlehem. Injil Matius mencatat, kelahiran Yesus merupakan penggenapan nubuat nabi Yesaya,“Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” yang berarti: Allah menyertai kita.” (Mat 1:23)

            Natal adalah kehadiran Allah, Imanuel. Oleh karena itu saya suka sekali dengan tema yang dipilih panita Natal kali ini: “Membuka Jalan bagi Kehadiran-Nya”. Saya percaya setiap kita di tempat ini tentu tidak ingin melewatkan Natal tanpa kehadiran sang Imanuel itu.

            Hal ini penting bagi kita untuk direnungkan, karena kehidupan modern telah membuat Natal menjelma menjadi sebuah peristiwa budaya yang dirayakan dengan simbol-simbol tertentu. Ada sinterklas, pohon natal, dan hadiah-hadiah. Semua simbol mempunyai makna, yang bila ditelusuri bisa memberi hikmah yang baik. Akan tetapi, sayangnya satu hal yang menonjol  dalam peristiwa Natal di dunia modern adalah  Natal sudah menjadi momentum konsumerisme. Natal menjadi saat di mana kita jor-joran berbelanja. Bahkan negeri tetangga kita, Singapura, menjadikan Natal sebagai momen untuk meluncurkan program wisata belanjanya. Akan tetapi, saudara-saudari yang terkasih, apakah artinya Natal bila di sana tidak ada sang bayi Imanuel? Oleh karena itu marilah kita menyambut kehadiran sang Imanuel itu dalam kehidupan kita.

            Lalu, bagaimana kita membuka jalan bagi kehadiran sang bayi Imanuel dalam hidup kita, khususnya melalui momentum Natal ini? Bila kita ingin mengundang seorang tokoh VIP, tentu kita akan membuat persiapan-persiapan, bahkan melakukannya sejak jauh-jauh hari untuk memastikan bahwa sang tokoh tidak mempunyai kesibukan lain. Lalu bagaimana dengan sang Imanuel? Apakah yang harus dipersiapkan?

            Hari ini saya mengajak kita untuk melihat seorang tokoh yang luar biasa yang diceritakan oleh Injil Lukas kepada kita. Dia bisa menjadi teladan yang indah bagi kita tentang sikap membuka jalan dan menerima kehadiran sang Imanuel. Mari kita baca bersama Lukas 1:26-38.

Lukas 1:26-38

26 Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, 27 kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. 28 Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” 29 Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. 30 Kata malaikat itu kepadanya: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. 31 Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. 32 Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, 33 dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.” 34 Kata Maria kepada malaikat itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” 35 Jawab malaikat itu kepadanya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. 36 Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. 37 Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” 38 Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia.

            Maria adalah seorang perawan dari sebuah kota kecil di Galilea bernama Nazaret. Nazaret ini bukanlah kota yang terpandang di masa itu. Kota yang miskin secara ekonomi dan dari segi kehidupan rohani pun tidak istimewa. Bahkan Natanael, seorang murid Yesus pernah berkata: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” (Yoh 1:46). Perempuan biasa dari sebuah kota yang biasa, Alkitab juga tidak memberikan catatan lain mengenai sosok Maria ini. Kita bisa membayangkan bagaimana kehidupan keseharian seorang perempuan di kota seperti Nazaret di zaman itu. Di zaman itu belum ada emansipasi wanita seperti sekarang. Kaum perempuan hanya bisa di rumah, mengurus urusan rumah tangga, dan impiannya pun hanya sebatas bagaimana nantinya menjadi ibu rumah tangga yang baik. Akan tetapi, kehidupan gadis biasa bernama Maria ini berubah total di suatu hari.

        “Salam hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau!… Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. 31 Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. 32 Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, 33 dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan… Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.”

            Satu hal yang istimewa tentang kehadiran sang Imanuel adalah bahwa kedatangan-Nya merupakan kasih karunia dari Allah untuk manusia. Kasih karunia (grace) artinya adalah sebuah pemberian yang diberikan berlawanan dengan keadaan orang yang menerimanya. Kedatangan sang Imanuel adalah atas inisiatif Allah untuk umat manusia. Hal yang istimewa yang kedua adalah kasih karunia Allah diberikan pertama-tama kepada mereka yang paling membutuhkan kasih karunia. Mereka yang dianggap paling remeh di dunia ini (the least), seperti seorang gadis lugu dari kota kecil tak terpandang ini. Oleh karena itu sesungguhnya tidak ada seorangpun yang dikecualikan oleh sang Imanuel. Dia datang kepada setiap orang, tanpa memandang seperti apa rupanya, kondisi ekonominya, bahkan moralnya!

            Oleh karena itu yang penting bagi kita adalah bagaimana respon kita terhadap kasih karunia yang diberikan Allah kepada kita ini. Mari kita belajar dari Maria tentang hal ini. Mari periksa bagaimana jawaban yang dia berikan kepada malaikat yang datang kepadanya. Kita bisa melihat bahwa pertama-tama dia terkejut dan bertanya-tanya dalam hati. Apa maksudnya, kenapa datang kepadaku? Kemudian ketika diberitahukan tentang anak yang akan dilahirkannya, dia mengemukakan fakta bahwa dia masih perawan, belum menikah. Dua respon ini adalah dua respon yang wajar sebagai seorang manusia. Seringkali kita menemukan bahwa kasih karunia Allah rasa-rasanya kok tidak cocok dengan keadaan kita. Seringkali kita juga merasa bahwa kasih karunia Allah sepertinya tidak masuk akal. Akan tetapi, yang membuat Maria istimewa adalah responnya yang terakhir di ayat 38. Ketika malaikat itu mengatakan bahwa bagi Allah tidak ada yang mustahil, Maria menjawab: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”

        “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Inilah kata kunci bagi kehadiran sang Imanuel dalam hidup kita. Lihat, Maria tidak bertanya-tanya lagi, mengenai kesulitan apa yang akan dia hadapi sebagai seorang belum bersuami tetapi mengandung seorang bayi. Maria tidak mencemaskan reaksi Yusuf, atau penjelasan apa yang harus diberikannya kepadanya. Tidak. Tidak ada lagi pertanyaan atau bantahan, hanya “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”

            Hari ini kita merayakan Natal. Yesus Kristus sang putera Allah yang maha tinggi itu, juga mau hadir di tengah-tengah kita. Dia mau hadir untuk memberikan pengharapan yang baru kepada kita. Dia mau hadir untuk memberikan hidup yang baru, yaitu kebebasan dari belenggu dosa. Dia juga punya banyak hadiah lain untuk memberkati hidup kita bersama dengan-Nya. Dengan sikap apakah kita mau menyambut Dia?

Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Amin.

 

Sam-el Ladh